Hari ini, bencana kembali datang. Musim hujan meruntuhkan Bukit Sarasah di Lembah Gumanti, Solok. 18 orang tewas tertimbun di saat mereka tidur di rumah dan di masjid. Tentunya sangat lelap karena daerah tersebut termasuk dingin, ditambah lagi hujan.
Informasi yang saya baca, di kawasan itu ada penambangan liar sehingga Bukit Sarasah menjadi rentan, dan ketika hujan tiba, datanglah bencana itu.
Cerita lainnya, di sebuah milis, saya sedang berdiskusi tentang nasib petani di Sumatera Utara dengan sebuah PMA PT Sumatera London atau Lonsum.
Sama dengan bencana, juga cerita yang tak sudah-sudah di negeri ini. Negara yang luasnya sama dengan Eropa, tetapi ribut terus soal lahan. Anehnya, kita merasa bosan untuk memperhatikannya. Mungkin karena sudah terlalu sering sehingga kita semakin bebal.
Kita bebal karena rakyat tak pernah berhenti menuntut. Kita juga bebal karena semua orang seperti yakin bahwa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang benar dan yang lain menjadi salah. Kita juga merasa bebal, karena mungkin kita sudah terlalu jauh masuk ke dunia yang pragmatis –dan sedikit hedonis atau portunis. Entah apapun namanya.
Ya, kita ada karena pikiran kita, kata Descartes. Seperti katak dalam gelas, melihat keluar, karena dunia itu menggiurkan, tetapi kita tetap terkurung dengan lompatan-lompatan yang malas tak berarti.
Apa boleh buat. Kita menghadapi kenyataan dengan sebuah persepsi yang sangat kecil, segenggaman saja. Seperti persepsi petani, yang melihat lahan sebagai bagian dari hidup mereka, dan orang-orang yang menggali kehidupannya di lereng Bukit Sarasah, tanpa pernah mencoba persepsi lain, bagaimana bila terjadi longsor?
Tapi, begitulah kita hidup, juga orang lain hidup, dengan sebuah persepsi yang begitu-begitu saja. Karenanya, apa artinya negeri yang seluas Eropa, sementara pikiran kita hanya berada di sebingkah tanah tempat kita berdiri.